Senin, 20 Mei 2013

Cleaning Service KFC jadi Boss Rocket Chicken


Cleaning Service KFC Jadi Boss Rocket Chicken

Bekerja sebagai cleaning service merupakan awal mimpinya untuk hidup mandiri dan dapat membiayai kuliah. Namun, karena kesibukannya bekerja sebagai cleaning service di restoran cepat saji tersebut, Nurul Atik harus mengubur impiannya dalam-dalam untuk melanjutkan pendidikannya. Ia malah membangun sendiri usaha makanan cepat saji yang kini sukses.http://asalasah.blogspot.com/2013/01/cleaning-service-kfc-jadi-boss-rocket.html

Anda pasti pernah mendengar ungkapan: “Orang yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.” Ungkapan ini mungkin cocok disematkan bagi seorang Nurul Atik. Pria asal Jepara ini menapaki kesuksesan dari jalan berliku.

Mantan cleaning service ini sekarang memiliki Rocket Chicken, perusahaan waralaba di bidang makanan cepat saji. Kini, ia memiliki 83 mitra di seluruh Indonesia. Ia mendapat pembayaran biaya royalti hingga Rp 100 juta dari para mitra.


Sebelum menjadi Presiden Direktur Rocket Chicken, Nurul bekerja sebagai seorang cleaning service di California Fried Chicken (CFC) di Semarang, Jawa Tengah. Dari seorang tukang bersih-bersih resto cepat saji, kini dia menjadi bos resto cepat saji milik sendiri.

Kisah Nurul dalam menapaki dunia kerja berawal ketika ia lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA), 20 tahun lalu. Lantaran ingin meringankan beban orang tua, Nurul pun berencana untuk melanjutkan kuliahnya dengan biaya sendiri.

Sempat menganggur selama setahun mencari pekerjaan, Nurul akhirnya diterima bekerja di CFC di Jalan Pemuda Semarang. Nurul bekerja sesuai dengan profesi yang dibutuhkan pada saat itu yakni sebagai cleaning service alias tukang bersih-bersih di restoran cepat saji itu.

Selama tiga bulan, Nurul menjadi karyawan dengan status trainee. Gaji pertama Nurul sebagai cleaning service pada saat itu hanya Rp 35.000 per bulan. Ia harus membagi gaji itu untuk kebutuhan makan, kos, dan biaya transportasi. Dengan jumlah gaji yang pas-pasan tersebut, sering ia harus berutang pada rekan-rekannya di CFC.

Karena kinerjanya yang bagus, ia kemudian diangkat menjadi pegawai tetap. Selang tiga bulan berjalan, akhirnya Nurul diangkat menjadi tukang cuci piring selama empat bulan.

Ia cepat bergeser ke posisi juru masak selama empat bulan. Karena kinerjanya semakin hari semakin baik Nurul diangkat lagi menjadi kasir selama enam bulan. Tak hanya sampai di situ, Nurul lalu naik pangkat menjadi seorang supervisor selama satu tahun.

Nurul juga mengecap posisi sebagai asisten manajer selama dua tahun di perusahaan yang sama. Karena kekosongan di bagian audit, Nurul kemudian menggantikan posisi tersebut selama tiga bulan. Tak memerlukan waktu yang lama, pria yang kini berusia 42 tahun ini mengecap posisi manajer areal selama dua tahun.

Posisi manajer areal mengharuskan Nurul berkeliling dari kota satu ke kota yang lain untuk memberikan pelatihan kepada karyawan-karyawan baru mulai dari berbagai kota di Jawa Tengah seperti Semarang, Magelang, dan Solo, hingga Yogyakarta.

Dengan kesibukannya bekerja di restoran cepat saji tersebut, Nurul mengubur dalam-dalam impiannya untuk melanjutkan pendidikan sampai jenjang perguruan tinggi. “Pada saat menjadi cleaning service, ternyata jam kerjanya shift sehingga saya tidak bisa membagi waktu antara kerja dan keinginan untuk kuliah,” tutur Nurul.

Namun, ia tak putus asa. Nurul mempunyai jurus jitu dalam menghadapi tantangan yang ada di depan mata. “Setiap melangkah kita harus memiliki niat yang kuat dan harus ditekuni,” tandas Nurul.

Ia juga mengungkapkan, dalam menjalankan segala kegiatan harus dilandasi dengan percaya diri dan semangat. Menurutnya, ia mendapat banyak pelajaran selama bekerja di restoran cepat saji CFC. Ia banyak mendapat ilmu dari rekan-rekannya yang berkerja di tempat tersebut, dari mulai menghargai hidup sampai pada pengelolaan restoran.

Pada saat bekerja sebagai cleaning service di CFC, Nurul memang tidak memikirkan jumlah pendapatan atau gaji yang ia terima. Ia hanya terus berpikir untuk bekerja sambil belajar apa saja yang didapatnya kala itu.

Karena keinginan yang kuat untuk hidup mandiri itu, Nurul memutuskan mencoba hidup mandiri dengan niat mendirikan usaha sendiri. “Orang tua pun mendukung sepenuhnya apa yang telah menjadi pilihan saya, hidup mandiri,” tandas Nurul.

Jiwa wirausaha tidak bisa dipisahkan dengan sosok Nurul Atik. Walau sudah berada pada posisi yang nyaman di sebuah restoran cepat saji, Nurul memutuskan membuka usaha dengan mereknya sendiri, Rocket Chicken. Cuma butuh waktu setahun, restoran yang menjual fried chicken ini sudah mengembang sampai 83 mitra.

Dengan gaji yang pas-pasan yang ia terima ketika menjadi cleaning service membuat Nurul Atik harus memutar otak agar ia bisa memenuhi kebutuhan saban bulannya. Tak jarang, ia harus meminjam uang dari rekan kerjanya di California Fried Chicken (CFC). Ia juga kerap meminta tambahan uang ke orang tuanya.

Untuk menghemat biaya hidup, Nurul pun harus mencari tempat kos yang jaraknya sekitar lima kilometer dari tempatnya bekerja. Tak jarang dengan alasan pengiritan, ia memilih berjalan kaki sampai satu kilometer. “Kalau sudah lelah, saya baru naik angkot,” ujarnya mengenang.

Kamar kos Nurul juga tak kalah memprihatinkan. Dengan luas 3X3 meter, kamar sewaan itu tak dilengkapi dengan kasur dan perabot lainnya. Kondisi seperti itu dilakoni Nurul kurang lebih selama lima bulan, sampai ia mendapat mess dari kantornya.

Buka usaha
Seiring karier yang terus menanjak serta kondisi ekonomi yang terus membaik, pada usia 29 tahun, Nurul pun memutuskan menikah dengan Emy Setiawati, seorang karyawan di sebuah swalayan di Yogyakarta yang baru dipacarinya dua bulan. “Saat itu, saya sudah menjadi manager di CFC Yogya,” ujar Nurul.

Meski begitu, gaji yang diterima Nurul tak mampu memenuhi kebutuhan selama satu bulan. Apalagi menyusul kemudian pasangan Nurul dan Emy dikarunia momongan. Makanya, setelah melahirkan anak pertama mereka, Emy membantu perekonomian keluarga dengan membuka usaha roti.

Meski posisinya cukup baik di tempat kerjanya, keinginan Nurul untuk membuka usaha sendiri rupanya tak pernah padam. Puncaknya terjadi ketika krisis keuangan melanda Tanah Air tahun 1998, Nurul memutuskan keluar dan membuat usaha sendiri.

Nurul merasa waktu 10 tahun bekerja sudah cukup untuk berguru di restoran cepat saji Amerika Serikat itu. “Saya mantap keluar karena ingin mandiri,” ujarnya.

Pada saat yang sama, seorang kawan mengajak Nurul membuat restoran makanan cepat saji yang mengusung ayam goreng (fried chicken). Ide tersebut muncul karena pada waktu itu membuka restoran cepat saji atau fast food menjadi tren di kalangan masyarakat.

Berbekal pengalamannya, Nurul mantap menerima ajakan temannya. Ia kemudian bertindak sebagai pengembang bisnis, sementara temannya mengurusi permodalan. Usaha keras mereka membawa hasil. Bisnis mereka cepat mengembang. Saat ini, Nurul telah memiliki 86 cabang.

Seiring berjalannya waktu, lelaki kelahiran Jepara, 25 Juni 1966 ini kembali merasa gelisah. Ia tergelitik mengibarkan bendera usaha dengan membuat restoran fried chicken sendiri. Kali ini dengan potensi pasar yang berbeda dengan usaha sebelumnya yang menyasar pasar menengah atas.

Pilihannya jatuh ke pasar menengah bawah. Selain pasarnya lebih besar, segmen tersebut juga belum tersentuh restoran fast food lokal maupun asing. Pada 21 Februari 2010, Nurul lantas mendirikan usaha sendiri dengan nama Rocket Chicken di Jalan Wolter Monginsidi, Semarang.

Perkembangan bisnisnya ini di luar perkiraan Nurul. Antusias masyarakat menyambut bisnis makanan cepat sajinya sangat cujup menggembirakan. Baru setahun berjalan, Nurul memiliki 83 mitra. Dengan sistem waralaba, Nurul mengembangkan bisnisnya tampa mengeluarkan modal uang sepeser pun. “Semuanya hanya didasarkan pada kepercayaan saja,” ujarnya.

Beruntung, kebanyakan mitranya adalah orang-orang yang mengenal dan tahu sosok Nurul yang telah berpengalaman dalam bisnis ayam krispi ini. “Saya cuma jual nama saja, outlet awalnya tak punya,” tandas Nurul.

Bersama mitranya, ayah tiga anak ini hanya menekankan agar menjalankan bisnis dengan kerja keras, tekun serta jujur. Bila itu menjadi landasan, Nurul yakni bahwa usaha mereka akan membawa amanah. Tak cuma bagi karyawan, tapi juga pemilik usaha franchise ayam krispi Rocket Chicken.

sumber: http://asalasah.blogspot.com

Senin, 01 April 2013

Jualan 'Mie Jupe' Pria Ini Raup Rp 150 Juta/Bulan

Jakarta - Berawal dari hobi makan mie, Ayodya Kunto (30) berhasil menciptakan mie ramen bercita rasa Indonesia dengan sebutan Mie Jupe alias Mie Juara Pedas. Memulai usaha dari Agustus 2012 dengan modal awal berutang Rp 50 juta, kini pria tersebut bisa meraup omzet hingga Rp 150 juta per bulan melalui 2 kiosnya.

Saat ini, Ayodya sudah memiliki 2 cabang di Pulogebang, Cakung, Jakarta Timur dan di Bintara, Bekasi. Awal April ini, dia juga akan membuka cabang baru di Harapan Indah Bekasi.

“Kalau modal pribadi sih enggak ada, itu modal dari utang, sekarang sudah balik modal, malah untung. Usaha saya semakin ramai dan berkembang. Mulai per awal April ini, saya sudah bisa membuka cabang yang ketiga,” katanya saat bercerita kepada detikFinance, di Jakarta, Senin (1/4/2013).

Mie Jupe milik Ayodya ini dihargai Rp 10 ribu hingga Rp 12 ribu per porsinya. Mie Jupe ini menyediakan 3 varian mie, yaitu Mie Jupe kuah, goreng, dan spaghetti. Untuk Mie Jupe kuah, terdiri dari rasa original dan kare, sedangkan Mie Jupe goreng ada rasa original, saus tiram, dan saus pedas.

Kata Ayodya, produk Mie Jupe ini seperti mie ramen dari Jepang namun dengan skala ekonomis menengah ke bawah dengan sedikit inovasi melalui sensasi pedas karena masyarakat Indonesia cenderung suka pedas.

Dia mengaku, Mie Jupe buatannya ini banyak digemari pelanggannya yang kebanyakan remaja, mulai dari anak sekolah sampai kuliahan. Biasanya, pelanggan Mie Jupe ini bisa mencapai hingga 250 orang per harinya.

Ada yang beda dari Mie Jupe ini dari mie yang biasa kita jumpai, yaitu pelanggan bisa memilih tingkat kepedasan, mulai dari level 1 hingga 10.

“Kita punya rasa khas kuah yang berbeda. Mie-nya juga kita bikin sendiri. Pedasnya juga berlevel dari level 1 sampai 10. Sekarang Mie Jupe berprospek sangat bagus karena sudah jadi tren masakan pedas saat ini,” cetusnya.

sumber: detik.com

Pernah 9 Kali Gagal, Wanita Ini Sekarang Raup Omzet Rp 10 Miliar


Jakarta - Jangan pernah menyerah untuk mencapai kesuksesan. Kejar terus untuk mendapatkannya walaupun telah berulang kali gagal. 

Demikian diungkapkan Riezka Rahmatiana, Founder & Commisioner Justmine Pisang Ijo yang telah 9 kali gagal membangun berbagai macam bisnisnya. Melalui bisnis Justmine Pisang Ijo inilah, kini ia bisa meraup omzet hingga Rp 10 miliar setiap tahunnya.

"Awalnya saya sempat tertipu ratusan juta. Pisang ijo ini bisnis kesembilan dengan hanya modal Rp 150 ribu tapi berhasil," kata Riezka usai menjadi pembicara di acara Launching Ernst and Young Entrepreneurial Winning Woman 2013, di Graha Niaga, Jakarta, Rabu (20/3/13).

"Kenapa bisa besar karena punya impian besar. Prinsip saya berpikir yang besar dengan tindakan yang besar dan akan mendapat hasil yang besar. Apa yang dipikirkan saya dulu menjadi saya yang sekarang," katanya. 

Bisnis kuliner khas Makassar miliknya ini, kini sudah merambah ke berbagai kota di Indonesia bahkan hingga Malaysia.

Dengan modal awal hanya Rp 150 ribu saja, wanita asal Lombok ini kini bisa menikmati manisnya perjuangan. Saat ini, dia sudah memiliki 250 gerai, diantaranya satu gerai di Malaysia yang dibuka Februari 2013 lalu.

Berawal dari hobi makan, ibu dua anak kelahiran 1986 ini punya mimpi untuk bisa menguasai dari hulu ke hilir penjualan makanan tradisional hingga dikenal ke mancanegara.

"Tadinya bahan bakunya dari distributor sekarang menanam sendiri. Pisang ijo itu khas Makassar tapi saya orang Lombok tinggal di Bandung. Awalnya suka makan. Jadi apapun yang dilihat apalagi kue tradisional beli dan penasaran gimana bikinnya," jelasnya.

Menurutnya, kemauan, keberanian, dan lingkungan sekitar ikut perperan besar terhadap kesuksesan seseorang. "Orang sukses terjadi akibat lingkungan yang sukses," cetusnya

sumber: detik.com

Rabu, 20 Februari 2013

Kisah sukses bisnis tahu bakso

baksotahu
Sebagai istri pegawai negeri sipil (PNS) dengan gaji yang dirasa tak bisa memenuhi kebutuhan yang semakin besar, membuat Sri Lestari (55), harus memutar otak untuk mencari tambahan penghasilan.
Perempuan tiga anak itu pun mencoba bisnis pakaian, kelontong, dan beberapa usaha lain. Namun usaha itu tidak berjalan seperti yang diharapkan alias gagal. Ia jatuh bangun dalam membangun usaha. Dan, itu tak membuatnya patah arang.
Hingga akhirnya, istri Pudjianto itu mendapati ada menu tahu bakso yang belum pernah ditemuinya sebelumnya, pada suatu acara. Perempuan berjilbab yang hobi memasak itu lalu mencoba membuat penganan itu sendiri. Secercah harapan muncul. Penganan berbahan tahu dan bakso buatannya disukai.
"Awalnya kami hanya menjual di kalangan teman-teman PKK, atau Dharma Wanita. Lama kelamaan pesanan mengalir, akhirnya kami putuskan setiap hari membuat tahu bakso,’’ kata Sri Lestari, yang akrab disapa Bu Pudji, pemilik Toko Tahu Bakso Bu Pudji yang mulai dibuka pada 1996 itu.
Dia mengatakan, awalnya ia hanya memproduksi antara 100-150 biji. Usaha itu terus berkembang hingga pada 2002 ia mampu memproduksi hingga 1.500 biji. Kini, rata-rata ia menghasilkan sebanyak 10 ribu buah per hari. Bahkan, saat liburan hari raya Lebaran dan akhir pekan mencapai 15 ribu tahu per hari. Omzetnya mencapai ratusan juta per hari.
Meski pesanan cukup banyak ia tetap memperhatikan kualitas bahan baku dan pembuatannya dengan memenuhi standar kesehatan. ”Kami tidak menggunakan bahan pengawet, seperti formalin. Bahkan dalam prosesnya, peralatan maupun pengolahan selalu higienis. Makanya, tahu kami hanya dapat bertahan dua hari saja, kecuali dimasukkan ke lemari es,’’ ujarnya seperti dilansir Harian Suara Merdeka.
Dengan munculnya pesaing baru yang mencapai sekitar 20 usaha, ia mengaku bersyukur. Sebab, usaha tersebut mampu meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

‘’Untuk bahan baku tahu, sejak awal kami menggunakan kedelai impor yang kualitasnya memang bagus dibanding kedelai lokal. Untuk dagingnya, kami memilih yang berkualitas,’’ tandasnya.

Bisnis usaha yang dibantu sekitar 70 karyawan itu kini berkembang pesat. Selain membuka outlet di Jalan Letjend Suprapto 24 Ungaran, ia juga membuka outlet di Jalan Jenderal Sudirman 156, Langensari atau depan Stadion Wujil, Ungaran.

Sarjana teknik mesin yang suskes dengan bisnis kuliner


Sarjana Teknik Mesin Yang Sukses Dengan Bisnis Kuliner

Rivai Fadli - Pemilik Surabi Bantai


Awal Juni petang itu, di sebuah toko yang terletak di jalan T. Iskandar, Lambhuk, Kota Banda Aceh, seorang lelaki muda terlihat sibuk melayani para pengunjung. Tujuh meja plastik yang di taruh di halaman toko dipenuhi puluhan gadis remaja. Dua perempuan yang duduk di meja paling pojok terlihat serius mengamati buku kecil berisi deretan menu. Beberapa saat mereka memanggil pelayan. Menu pilihan kini siap dihidangkan.


Begitulah suasana saban hari di tempat ini. Para warga kota Banda Aceh yang demen makanan enak dan unik, tentu Surabi Bantai jawabannya. Penganan tradisional yang dikemas dengan konsep modern ini pasti membuat anda ketagihan. Jangan khawatir soal harga, satu porsi anda cukup membayar enam ribu rupiah. Murahkan?



Surabi Bantai Rasa Saos dan Coklat
Rasa dulu ah...
Mumpung gratis, coba dulu ah....


Bagi kebanyakan orang Aceh kue serabi sudah sangat familiar. Penganan berbahan baku tepung yang dimakan dengan kuah santan. Berbentuk bulat, dengan permukaan kenyal. Nah, Surabi yang ini lain. Tidak dimakan dengan santan, tidak bulat, tapi tetap empuk.

Nama Surabi adalah gabungan antara Sunda dan Aceh. Su berarti Sunda dan Surabi berarti nama kue yaitu serabi. Bantai itu sendiri adalah bahasa Aceh yang berarti bantal. Nah, karena surabi makanan yang empuk sama halnya dengan bantal maka disebutlah Surabi Bantai. Jargonnya pun terkesan unik, Bantai surabinya rasakan empuknya.

Siapa sangka lezatnya Surabi Bantai itu ternyata lahir dari sentuhan tangan dingin pemuda lulusan Teknik Mesin. Alih-alih ingin membuat mesin, eh malah ia membuat kue.

Pemuda itu bernama Rivai Fadli. Lahir di Aceh Jaya, tahun 1985. Ia adalah Sekolah Menengah Atas (SMA) N 1 Kota Banda Aceh. Setelah melepaskan seragam putih abu-abu,  ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan mengambil jurusan Teknik Mesin.

Bagi Rivai kuliah hanya untuk membuka wawasan dan membentuk pola pikir. Bukan berarti ketika kuliah mengambil jurusan hukum anda harus menjadi seorang pengacara. Ia sendiri justru lebih tertarik bergelut di dunia bisnis, meskipun ia tak mengantongi ijazah ekonomi.

“Tak ada yang salah kan kalau sarjana teknik tapi berbisnis,” ujar pria berkulit putih ini tersenyum.
Sore itu ia bersedia berbagi cerita seputar usaha surabi bantai yang kini membuatnya bisa hidup mandiri. Omset yang didapat dari bisnis kuliner ini setiap bulan mencapai Rp. 90 juta. Bila dikurangi biaya produksi dan operasional lainnya, laba bersih yang masak ke kantongnya berkisar Rp. 35 juta sampai Rp.45 juta perbulan.

Membangun usaha mandiri memang tak semudah membalik telapak tangan. Perlu perjuangan dan kesabaran. Jatuh, bangun, jatuh lagi dan bangkit lagi. Setidaknya itu dialami Rivai selama membuka usaha sendiri. Pria yang sudah menikah ini tiga kali mengalami kegagalan. Namun ia tak menyerah justru baginya gagal itu adalah pelajaran tambahan agar ia lebih siap menyambut kesuksesan.



Dan kini apa yang diucapkan terbukti sudah. Bisnis kuliner surabi bantai adalah satu-satunya eksperimen yang berakhir manis.

Lantas bagaimana kisah surabi bantai ini diciptakan?

“Saat itu saya jalan-jalan ke Bandung. Usaha ayam panggang baru saja saya tutup. Jadi saya refresing ke sana, siapa tahu dapat ide baru. Di kota Bandung saya melihat, mempelajari bagaimana orang di sana mengelola bisnis kuliner sederhana tapi laku. Saya lihat di Bandung banyak makanan-makanan tradisional yang konsep penjualannya secara modern,” jelas Rivai. Sesekali ia meminta izin karena harus melayani para pengunjung.

Dari hasil observasi itu maka timbullah ide untuk  membuat  kue tradisional Aceh dengan konsep madern. Dan pilihannya jatuh pada kue serabi. Kenapa serabi? “Serabi salah satu kue tradisional yang paling mudah ditemukan di Aceh,” jawab Rivai serius.

Sejak pulang dari Bandung, Rivai giat belajar membuat kue serabi. Berbekal tips-tips dari buku dan internet ia terus mencoba. “Tiga bulan kerjaan saya hanya bikin kue serabi. Pertama buat rasanya aneh banget,” kata Rivai terbahak mengenang perjuangan tempo hari.

Bulan ke empat ia mengambil keputusan untuk membuka usaha serabi. Modal awal hanya Rp. 15 Juta. Dengan modal tergolong kecil itu ia membeli peralatan ; gerobak, peralatan masak, tepung dan beberapa buah meja serta kursi plastik.

Ia memilih lokasi di depan pertokoan dekat dengan jalan utama Lambhuk. Biar lebih mudah diakses sama pelanggan, begitu alasannya. Awal berjualan orang-orang penasaran makanan jenis apa surabi bantai. Apalagi serabi made in Rivai ini tersedia dalam beragam rasa. Ada rasa coklat, rasa keju, saos, sosis dan telor.

“Pertama buka orang pada ketawa, bingung, penasaran. Kok ada ya, serabi rasa sosis. Akhirnya mereka coba, dan ternyata enak, besoknya bahkan mereka minta ditambah rasa-rasa yang lain,” ujarnya.

Bagi Rivai masukan  dari pelanggan menjadi ilmu yang berharga. Bahkan ia sangat senang kalau ada pelanggan yang cerewet. Dengan begitu ia bisa tahu apa kekurangan dari makanan yang ia sajikan.

“Saya suka dikritik, kalau tidak dikritik saya tidak tahu apa kekurangan masakan saya. Misal hari ini ada pelanggan yang bilang ‘serabinya terlalu lembek’, ya besoknya saya buat jangan terlalu lembek,” katanya membuka konsep dalam berbisnis.

Satu tahun kemudian, Rivai memindahkan gerobaknya ke tempat yang lebih bagus. Kini ia menyewa satu unit toko dua lantai. Di tempat yang baru nama surabi bantai semakin meroket. Kini surabi bantai sudah punya langganan tetap. Dan satu hal lagi yang harus diberi apresiasi, kini ia memiliki 12 karyawan.

Ke depan Rivai berniat untuk membuka outlet surabi bantai di Banda Aceh. Targetnya usai lebaran tahun ini. Mimpi besar lain yang ia tanam adalah menjadikan surabi bantai salah satu usaha berbasis franchise. Semoga mimpi itu terwujud.

Tinggalkan pekerjaan demi bisnis kuliner


Tinggalkan Pekerjaan demi Bisnis Kuliner
Watermark image
Dibaca : 76 kali      Komentar: 0

Bisa dibilang, awal membangun bisnis kuliner Lele Crispy terinspirasi dari kejadian yang tak disengaja. Yaitu ketika Fajar Alam Setiabudi (30) memarkirkan kendaraannya di depan sebuah warung makan lele yang kala itu ramai dengan pembeli.
"Tapi pas saya coba, kok rasanya begini-gini aja, enggak enak tapi kok ramai ya. Saya berpikir, kalau bisa diolah dengan baik, ikan lele pasti enak. Dari situ akhirnya saya putuskan untuk membuka usaha," ujarnya.
Namun tak serta merta keesokan harinya Fajar mendirikan warung makannya itu. Selama waktu satu bulan, Fajar mencoba berbagai resep untuk bisa menghasilkan lele nikmat dan dahsyat saat dicoba. "Saya coba-coba mulai dari lelenya mau diapakan, bentuk penyajiannya bagaimana, sampai pada sambalnya. Sepuluh kali saya ganti-ganti sambal karena takarannya yang menurut saya kurang pas," ujarnya.
Dari gemar memasak saat masih duduk di bangku sekolah dasar, menempuh pendidikan Pariwisata di Universitas Trisakti, Jakarta Selatan, dan bekerja di majalah masak-memasak, cukup menjadi modal Fajar berbisnis kuliner. "Saya pernah jadi karyawan di sebuah perusahaan swasta, tapi saya berpikir, kenapa tidak buka usaha kuliner sendiri saja toh saya juga suka masak," kata Fajar.
Meski bisa dibilang membangun bisnis kuliner Lele Crispy adalah rencananya yang tak disengaja, namun keinginan membuka usaha sudah ada sejak kecil. "Dari sejak suka masak itulah saya punya cita-cita mau punya usaha kuliner sendiri. Ya akhirnya terwujud juga sekarang," tuturnya.
Dalam berbisnis tentu kendala senantiasa muncul. Namun kendala itu tak sampai membuat Fajar patah arang. Saat berencana memutuskan membuka usaha pada pertengahan 2009, Fajar sempat mendapat masukan dari keluarga untuk tak mengambil keputusan terburu-buru dengan keluar dari pekerjaannya sebagai dapur uji di Majalah Sedap.
"Tapi karena keinginan, niat, dan usaha yang kuat, saya bisa membangun usaha ini sampai akhirnya bisa seperti sekarang. Istri sangat mendukung, malah dia berhenti bekerja untuk membantu saya di warung," kisahnya.
Soal persaingan, Fajar tak takut meski banyak sekali warung makan bahkan warung-warung tenda yang menjual lele sebagai menu utama. Gurih, murah, dan pelayanan yang menarik dijadikan Fajar sebagai senjata untuk mempertahankan dan menarik minat para konsumen terhadap bisnis yang digelutinya.
Minat untuk membuka cabang atau menggunakan sistem waralaba kini sudah ada dalam pemikirannya. Hanya saja, untuk melaksanakannya, Fajar harus berpikir ulang agar semuanya tetap terkendali dan tidak sampai menelantarkan apa yang sudah dibangunnya sejak tiga tahun terakhir.
"Harus pikirkan SDM-nya juga kalau mau buka cabang. Selama ini kan saya juga menjalaninya sendiri, saya yang olah bahan-bahannya sendiri, dan juga masih masak kalau warung memang lagi ramai. Mungkin tahun depan akan ada rencana jadinya seperti apa," tuturnya. (vin)

Kamis, 25 Agustus 2011

Erick - Pemilik Burger Blenger

Bisnis Keblinger Burger Blenger

Burger dan hot dog di kedai Erik ini tampil dalam porsi besar dan olesan mayonnaise yang terbilang generous. Rasa burgernya pas untuk lidah orang Indonesia, tak heran jika banyak lidah rela keblinger Burger Blenger ini. Coba tengok. Kios yang dominan warna hitam, abu-abu, dan merah di sudut Jalan Lamandau IV, Jakarta Selatan, itu tak pernah sepi beraktivitas.

Empat orang pria berkaus hitam-hitam, yang menjadi penghuni tetap dapur, nyaris tak pernah diam. Burger Blenger, Grill Burger dan Chili Dog. Tulisan itu terpampang jelas dalam papan berwarna merah, tepat di atas sebuah dapur mungil berukuran 15 m2. Di depan kios tersebut tampak empat buah payung taman yang masing-masing menaungi satu set meja kursi taman. Di dapur terdapat panggangan yang berukuran sedang, dua buah microwave, serta lemari pendingin yang besar.

Meski hanya sebuah penjaja burger di pinggir jalan, kedai itu hampir tak pernah sepi. Dari pukul 13.00 hingga 21.00 pengunjungnya terus berdatangan. Ada yang bersantap di kedai itu. Tapi, lantaran tempatnya terbatas, banyak pula yang menenteng bungkusan styrofoam berisi burger atau hot dog. Kalau diamati, pembelinya pun beragam. Ada anak-anak ABG yang tampil trendi, lalu orang-orang muda yang baru pulang kerja, eh... terselip pula dua orang lanjut usia mengantre di depan kasir. Lantaran terbilang kedai pinggir jalan, tata cara makan burger di sini sedikit beda.

Pengunjung yang datang harus langsung memesan. Setelah membayar, barulah pesanan tersebut dibuat. Tamu yang banyak membuat pekerja di Burger Blenger beraksi dengan cekatan. Mula-mula mereka menata kemasan styrofoam di atas meja. Lalu di dalamnya diisi dengan burger bun atau hot dog bun, sembari menunggu daging yang dibakar lebih dulu. Mereka juga membubuhkan sayuran serta mayonnaise dalam takaran yang banyak.

Setelah menambahkan daging, styrofoam berisi burger atau hot dog itu dimasukkan ke dalam microwave, agar bumbunya meresap dan bun-nya tambah nikmat. Nah, jika baru pertama kali mampir ke Burger Blenger, tak perlu bingung memilih menu. Di sini cuma ada empat menu makanan, yakni cheese burger, beef burger, chili dog, dan cheesy dog. "Ini semua resep kreatif saya," ujar Erik Kadarman, si pemilik kedai. Selain di Lamandau, Burger Blenger juga mempunyai cabang di Bintaro dan Tulodong House bilangan Senopati. Menu favorit di sini adalah cheese burger.

Satu porsi cheese burger ala Burger Blenger ini memang benar-benar bikin mblenger kekenyangan. Pasalnya, menurut Erik, ia memakai bun dengan bobot 85 gram, serta daging burger yang beratnya 100 gram. "Tapi, ketika dipanggang, bobot daging akan berkurang karena kandungan air hilang dan lemaknya mencair," jelasnya. Bun dan daging racikan sendiriSelain ukurannya heboh, sayuran dalam cheese burger bikinan Erik tampak agak berbeda. Timunnya adalah kyuri atau timun jepang segar, bukan timun yang diasinkan. Pasalnya, "Lidah Indonesia tidak begitu suka timun asin," alasannya. Ia juga menggunakan letuce dan bukan selada air atau selada keriting, agar jika digigit terasa lebih crispy.Erik juga royal membubuhkan mayonnaise dalam porsi menunya. Harganya di pasaran memang selangit.

Tapi, Erik tak merasa terganggu dan rugi lantaran dia bikin mayonnaise sendiri. Itu sebabnya, ia dengan murah hati bisa membubuhkan mayonnaise dalam takaran yang besar. Maklum, "Burger dan hot dog begini, kunci rasanya ada di mayonnaise," papar Erik. Tak tahunya, selain mayonnaise-nya home made, Erik juga membuat sendiri bun, burger, dan sosis untuk kedainya ini. Awalnya dulu Erik mempunyai pemasok roti. Ia juga biasa membeli sosis di pasaran. Tapi, "Sosis itu rasanya biasa," jelas Erik.

Lantas, Erik yang hobi masak itu pun mencoba-coba resep sosis sendiri dan sukses. Jadi, jangan heran jika ukuran sosis untuk cheesy dog terbilang gede. Sebagai pembuat sosis, Erik bebas-bebas saja menentukan sendiri ukuran sosisnya. Dalam sebulan, Erik membutuhkan 1,5 ton daging sapi impor dari Selandia Baru untuk diolah menjadi burger dan sosis. Begitu pun dengan bun atau roti untuk burger dan hot dog. Setelah kedainya mulai ramai, Erik mengaku terdorong membuat bun sendiri. Setiap hari kedai Bugger Blenger ini buka dari pukul 13.00 hingga pukul 21.00.

Tapi, selama waktu itu pula kedainya tak pernah terlihat sepi. Para pembelinya menyerbu menu bikinan Erik. Sepotong cheese burger dan cheesy dog harganya Rp 9.500, sedangkan beef burger serta chili dog harganya Rp 8.000 untuk tiap porsi. Untuk minumannya, ada juice strawberry segar yang dibanderol dengan harga Rp 7.000 per gelas. +++++Sama-Sama Berakhiran ErKalau melihat porsi burger yang disajikan Erik, pastilah langsung tebersit rasa kenyang yang mantap. Malah, ada yang sampai mblenger kekenyangan jika kapasitas perutnya kecil. Sebenarnya, label Burger Blenger ditemukan Erik dengan tak sengaja. Dulu ia mengaku bingung memberi nama kedainya. "Pokoknya saya ingin kasih nama yang sama-sama berawalan B dan berakhiran Er," papar Erik.

Lantas, ia menemukan kata blenger. Kebetulan saja, kata itu cocok dengan penampilan burger Erik. "Begitu gigitan terakhir benar-benar langsung masuk dan kenyang," sambungnya sambil tertawa. Resep dari BrowsingErik Kadarman, pemilik Burger Blenger, mengaku berhobi masak sejak masih SMP. Lelaki berusia 32 tahun ini menceritakan hal itu sambil tertawa lebar. "Kalau teman lain bacanya Hai, waktu itu saya sibuk menggunting resep di Majalah Kartini," cetus ayah satu anak ini. Kendati punya hobi masak, Burger Blenger merupakan usaha makanan pertama yang dirintis Erik. Awalnya, ia bekerja sebagai karyawan salah satu perusahaan Bakrie. Tapi, Erik memang bercita-cita punya usaha sendiri.

Setelah berpikir lama, Erik memilih berjualan burger. Pasalnya, di Amerika, kedai burger banyak bertebaran di setiap sudut. Orang Indonesia juga suka burger, karena makanan ini sudah lazim dijajakan dengan sepeda genjot keluar masuk kampung. Erik ingin berjualan burger di lapak pinggir jalan, bukan di mal atau pusat perbelanjaan. Tujuannya agar orang yang membeli tak perlu repot parkir dan merasa harus berpakaian bagus. "Santai saja. Orang beli bisa langsung dimakan di tempat, di mobil, atau dibawa pulang," kata Erik.

Karena itu, Erik mencari lokasi yang komunitasnya sudah terbentuk, hal yang ia dapatkan di sudut Lamandau IV ini. Kedai burger Erik berdiri pertama kali pada bulan Juli 2004. Ia hanya menggunakan satu gerai kecil dan paling-paling laku 10 porsi tiap hari. Barangkali lantaran merasa cocok, banyak orang menyambangi kedai Erik. Pelan-pelan, jumlah menu yang terjual mencapai 300 porsi. Sekarang, jumlah itu tentu sudah berkali lipat lagi. Setelah kedainya makin laku, Erik yang lantas keluar dari kantornya ini, makin terdorong menambah cita rasa masakannya.

Ia lalu membuat sosis dan bun sendiri. Ia mengaku mencari resep sosis lewat search engine di internet. "Tinggal ketik sausage dan recipe, langsung muncul resep sosis dalam banyak bahasa," ujarnya sambil tertawa. Erik mengambil satu resep dari Jerman, yang terkenal dengan kelezatan sosisnya, lantas diaplikasikan untuk chili dog dan cheesy dog ala Burger Blenger. Mau coba? Burger Blenger~ Jl. Lamandau IV Kebayoran Baru, Jakarta Selatan~ Area Parkir Raja Soto, Bintaro, Jakarta Selatan~Tulodong House, Jl. Senopati, Jakarta Selatan

Rabu, 10 Agustus 2011

Rejeki Dalam Semangkuk Bubur

Semangkuk bubur ayam bisa mengubah jalan kehidupan. Meski begitu, hanya kerja keras dan ketekunan yang bisa mendorong roda rezeki berputar.  
 
Seperti pagi-pagi sebelumnya, tangan Suro (46) tak henti menciduk bubur panas, memotong hati dan ampela, serta menaburkan suwiran daging ayam, bawang, dan seledri ke dalam mangkuk. Tangannya bekerja seperti mesin. Cepat dan efektif. Ia tak ingin pelanggan yang sudah duduk mengelilingi gerobaknya menunggu terlalu lama. Itulah Suro ”tukang” bubur ayam Permata di bilangan Permata Hijau, Jakarta Selatan. 
 
Sejak memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta selepas SMA tahun 1985, Suro meninggalkan desanya, Desa Srumbu, Kecamatan Patuk, Gunung Kidul, Jawa Tengah. ”Saya ingat waktu itu uang di kantong ada Rp 13.000, yang Rp 6.500 untuk naik bis ke Jakarta, sisanya untuk bertahan hidup. Saya kerja serabutan, jadi kuli, jadi OB, pelayan restoran, sampai jadi satpam,” kata Suro, yang sampai kini tetap menyelipkan tulisan ”Gunung Kidul” di salah satu kaca gerobak buburnya.
 
Setahun kemudian ia membantu pamannya sebagai pendorong gerobak bubur ayam. Saat itulah ia merasa bahwa bubur ayam adalah ”jodohnya”. ”Saya nekat berjualan sendiri. Gerobaknya saya beli dengan cicilan selama lima bulan. Saya berkeliling di sekitar Permata Hijau,” katanya.
 
Awalnya, ia mangkal di dekat pangkalan ojek di area itu. ”Pemilik Permata Swalayan kemudian memanggil saya. Saya diminta berjualan di area parkir agar para karyawannya tidak susah menyeberang jalan,” kata Suro.
 
Di lokasi parkir itulah bubur ayam Permata ngetop namanya. Pengunjung datang dari berbagai wilayah di Jakarta. Mereka menyantap bubur di dalam mobil.
 
Dengan tabungan selama lebih dari 20 tahun, Suro sejak tahun lalu bisa menyewa salah satu ”ruangan” di jejeran pertokoan Permata Hijau.  ”Alhamdulillah, uang sewanya memang berlipat-lipat dibandingkan dengan berjualan di lahan parkir. Namun, di sini saya bisa berjualan dengan tenang. Pembeli juga bisa makan dengan nyaman di dalam warung saya, tidak di dalam mobil lagi,” kata Suro, yang berjualan dari pukul 06.00 sampai pukul 21.00.
 
Bubur juga membawa berkah bagi keluarganya. Ia sudah memiliki rumah sendiri di tahun ke-10 berjualan bubur ayam, memiliki mobil di tahun berikutnya. ”Tetapi, yang penting, anak tertua saya sudah kuliah semester empat,” kata bapak empat anak ini, yang merasa bersyukur nasibnya lebih baik dibandingkan dengan teman-teman sedesanya yang dahulu sama-sama merantau ke Jakarta.
Mang Oyo dan Bubur Gaul
Hanya berbekal pendidikan sekolah rakyat, Oyo Saryo (60) atau yang dikenal dengan sapaan Mang Oyo berkelana dari kota kelahirannya, Majalengka, ke Bandung pada tahun 1964. Tiba di Bandung, Oyo yang semula buruh tani itu berjualan minyak tanah keliling, lalu beralih ke bubur lemu (bubur sumsum). Baru pada tahun 1976, Oyo memilih berjualan bubur ayam.
 
Bubur ayam yang pertama kali dijualnya masih berupa bubur encer, bukan bubur kental seperti yang dikenal konsumen saat ini. Bubur kental inilah yang kemudian membuat nama Mang Oyo populer sejak tahun 1989. 
Saat ini bubur dengan nama ”Bubur Ayam MH Oyo Tea” ini hanya berada di lima tempat yang kesemuanya berada di Kota Bandung, yaitu di Sarijadi, Gelapnyawang, Ir H Juanda, Surapati, dan Sulanjana. Dua tempat lain di Bandung ditutup bukan karena tak laku, tetapi karena bermasalah dengan penanggungjawabnya.
 
Oyo tahu bagaimana melindungi produk ciptaannya. Bubur Ayam MH Oyo Tea sudah terdaftar di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual dan Departemen Kesehatan serta sudah bersertifikat halal Majelis Ulama Indonesia. Selain menunaikan ibadah haji pada tahun 1995, usaha yang dijalani Oyo sudah menghasilkan rumah di Bandung, serta rumah, vila, dan sawah di Majalengka, selain beberapa kendaraan operasional.
 
Menemukan usaha mapan di bubur ayam juga menjadi pengalaman Achmad Badaruddin, yang dulu bekerja di sebuah perusahaan asuransi. Kini, ia banting setir menjadi pengusaha bubur ayam. Itu gara-gara suatu kali ia  diajak kliennya bertemu di sebuah hotel di Jakarta Selatan yang menyediakan bubur ayam. Achmad lalu menggagas untuk membawa bubur kelas hotel itu ke warung kaki lima dengan harga kaki lima.
 
Sebelum terjun jualan bubur, dia membuat riset selama empat bulan. ”Saya datangi warung-warung bubur yang katanya enak sampai ke Cipanas,” ujar Achmad, yang senang masak itu. 
 
Setelah informasi lengkap, Achmad dan istrinya, Deasy, mencoba-coba membuat bubur dengan tujuh macam beras yang berbeda. Sampai akhirnya dia mendapatkan beras paling cocok, yakni beras cianjur kepala besar. Achmad selanjutnya menyiapkan konsep dagangnya. Dia ingin menyasar pembeli kelas menengah ke atas. Karena itu, dia membuat warung yang bersih. Mangkuk dia pesan khusus dengan merek Gaul. Sekarang bahkan dia mencetak sendiri mangkuknya. 
 
Pada hari pertama jualan, Achmad memberi 75 mangkuk bubur secara gratis. Rencananya mau kasih gratis satu minggu, ternyata di hari kedua pembeli yang datang sudah membeludak. Yang laku sampai 200 mangkuk. Di hari ketiga dan selanjutnya, rencana memberi gratis satu minggu dibatalkan.
 
Sekarang buburnya sudah punya pelanggan tetap. Setiap hari, dia menjual 50-60 mangkuk, dengan harga Rp 10.000 per mangkuk. Pada Sabtu dan Minggu penjualan melonjak tiga kali lipat. Awalnya, Achmad jualan di tempat parkir pasar yang sekarang jadi Pasar Modern BSD. Beberapa bulan kemudian setelah pasar modern jadi, dia menyewa satu kios. Tiga tahun kemudian, Achmad sudah mampu membeli kios sendiri.
 
Filosofi bubur
Menjadi tukang bubur yang sukses, ada ”resepnya”. Mereka yakin panduan hidup itulah yang telah mengubah nasib mereka. Suro mengaku prinsip hidupnya sangat sederhana. ”Saya akan berupaya mati-matian dengan tangan sendiri. Saya pantang meminta-minta bantuan kepada orang lain,” tegasnya.
 
Mang Oyo pun selalu ingin memuaskan konsumen karena di tangan konsumen nasibnya bergantung. ”Kepercayaan dari pembeli yang membuat bisnis saya bisa bertahan sampai 30 tahun,” katanya.
 
Kiat serupa juga diterapkan Suseno (38), tukang bubur ayam khas Cirebon yang memulai usahanya dengan satu gerobak di sekitar Islamic Village, Tangerang, pada 1999, atau setahun setelah Indonesia mengalami krisis moneter. Secara perlahan, gerobaknya bertambah hingga empat, semuanya di wilayah Tangerang. Pria yang berasal dari Brebes, Jawa tengah, itu kini sudah memiliki ruko, warteg, tiga motor sebagai kendaraan operasional karyawan, sebuah mobil yang terkadang disewakan, dan sebuah rumah di kampung halaman.
 
”Saya bersyukur, kesabaran saya membuahkan hasil seperti sekarang,” ujar Suseno.
 
Bubur ayam khas Cirebon di kawasan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, juga tak kalah kondang. Dikenal dengan nama ”Burcik”, gerobak bubur ayam ini sudah mangkal di depan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sejak tahun 1970-an. Pengelolanya sudah berpindah tangan tiga kali, dari mulai Mang Didin, kemudian Sulaiman yang juga berjualan martabak di lokasi yang sama, dan sejak tahun 1980 sampai sekarang dipegang oleh Sarwa (55).
 
Pelanggan Burcik beragam, mulai dari seniman yang biasa mangkal di Taman Ismail Marzuki sampai pelanggan dari aneka penjuru Jakarta, terutama mereka yang sudah akrab dengan tempat mangkal ini di era 1970-an dan 1980-an. Lokasi yang berseberangan dengan pertokoan ”Hias Rias” itu (sekarang sudah tak ada) merupakan salah satu tempat gaul di masa itu.
 
Jika pada tahun 1970-an gerobak Burcik hanya menjual sekitar 1 liter beras per hari atau setara dengan 20 mangkuk bubur, pada masa jayanya, yaitu sekitar tahun 1990-an, Burcik bisa menjual sampai 30 liter beras, yang diolah menjadi bubur, per hari. Lewat bubur, Sarwa berhasil membeli rumah toko di pertigaan jalan Cikini dan Cilosari pada tahun 2005, dan sejak dua tahun lalu ia bisa berjualan di rukonya tersebut dari pukul 06.00 sampai pukul 24.00.

Meski kesejahteraannya terus membaik, Sarwa selalu ingat dengan prinsip hidupnya, yaitu kerja keras. Mereka berjuang tanpa subsidi, tanpa pula kenal korupsi.

Selasa, 09 Agustus 2011

Nur Dahyar - mantan karyawan yang menjadi pemasok komponen otomotif

Siapa yang membayangkan orang yang dulunya bekerja di bagian produksi pabrik Toyota Astra Motor (TAM) bisa mengubah nasibnya menjadi rekanan yang memasok komponen pada perusahaan otomotif terbesar di Indonesia tersebut?

Mungkin ada, tidak tidak terlalu banyak. Dan salah satunya adalah Nur Dahyar. Nur—demikian ia biasa dipanggil-membuka usaha pallet setelah “mencuri” ilmu di TAM selama 9 tahun. Saat ini pallet buatan perusahaannya tidak saja digunakan memenuhi kebutuhan dalam negeri tetapi juga diekspor ke luar negeri. “Sejak awal saya memang mempunyai rencana menjadi pengusaha,” ujarnya.

Pada saat bekerja di Toyota tahun 1978 ia hanya berbekal ijazah SLTP. Namun keinginannya menjadi seorang pengusaha tidak pernah mati, sembari bekerja di Toyota pada malam harinya ia bersekolah SMA hingga lulus Akademi D3 komputer. Ketika bekerja di Toyota, ia pun bertekat menguasai semua bidang sehingga ia minta kepada atasannya supaya di-rolling dari satu bidang ke bidang lain.

Maka sejumlah bidang di industri otomotif ini sudah ia jalani. Mulai dari bidang pengelasan, press, pengepakan, pergudangan dan lainnya. Setelah ia memperoleh cukup ilmu akhirnya ia keluar untuk mendirikan perusahaan kecil-kecilan.

Secara kebetulan ketika di Toyota ia kenal dengan Setiadi, seorang teknisi mesin yang bekerja di PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo). Hubungan pertemanan ini berlanjut menjadi hubungan bisnis. Nur Dahyar lalu mendirikan perusahaan yang diberi nama PT Nuansa Raya Dinamika (NRD) tahun 1997.

Modal awal pengembangan usaha NRD berasal dari pinjaman BNI sebesar Rp 50 juta. Pertama kali memperoleh order dari Pelindo lewat jasa temannya tersebut. Proyek yang ditanganinya adalah pembuatan 9 pemancar lampu (tower) senilai Rp 135 juta yang dilaksanakan dalam beberapa periode.

“Pada bulan pertama NRD menyelesaikan order sebesar Rp 15 juta tetapi biaya yang dikeluarkan sebanyak Rp 25 juta,” ujarnya. Hal ini wajar mengingat NRD harus menginvestasikan mesin dan peralatan lain. Setelah memiliki prospek yang baik koleganya tersebut mengajukan pensiun dini agar bisa fokus dalam mengembangkan perusahaan tersebut. Pada mulanya 100 persen saham dimiliki Nur Dahyar tetapi setelah Setiadi bergabung komposisi kepemilikan saham fity-fifty.

“Kami membina hubungan berdasarkan prinsip saling percaya, walaupun sering kali beda pendapat tetapi sampai sekarang masih bisa bertahan,” kata Setiadi. Jika Dahyar lebih menguasai proses produksi maka Setiadi menangani yang berkaitan masalah keuangan. Pembagian tugas yang jelas menyebabkan masing-masing orang tahu apa yang harus dilakukan dan bidang apa yang harus dikerjakan.

Beralih ke Besi/baja
Semula NRD memproduksi pallet yang terbuat dari kayu tetapi mulai tahun 2001 beralih dengan bahan baku dari besi/baja. Sejak tahun 2002 pallet buatan NRD semua berasal dai besi/baja. Hal ini disebabkan negara seperti Malaysia dan Australia sudah tidak mau menerima pallet yang terbuat dari kayu karena menciptakan masalah lingkungan.

Saat ini produk yang dihasilkan NRD tidak saja pallet baja tetapi juga peralatan konstruksi baja dan mesin-mesin sederhana. NRD telah berkembang menjadi tiga pabrik kecil yang menempati wilayah seluas 2560 meter persegi di daerah Semper. 55 persen produksi NRD untuk memasok kebutuhan Toyota sedangkan 45 persen kepada pelanggan lain. Tercatat beberapa perusahaan seperti PT Maersk Line, SCI, American Line, Mulia Keramik mengguanakan produk NRD.

Saat ini beberapa bank telah menyalurkan kredit pada UKM ini yakni Bank Niaga, Bank Permata dan Citibank. “Sekarang kredit yang bisa dikucurkan bisa mencapai Rp 1 miliar per bulan seiring dengan perkembangan perusahaan,” kata Setiadi. Ia merasa bersyukur karena omzet perusahaan yang semula hanya dibawah Rp 100 juta sekarang sudah mencapai Rp 14 miliar.

Setiadi memperkirakan omset perusahaan di akhir tahun bisa mencapai Rp 20 miliar. Meskipun masih mengandalkan produksi pallet baja tetapi produk-produk lain non-pallet akan ditingkatkan. Pada 2005-2007, NRD ingin masuk pada pengembangan produk komponen mesin. Rencananya 2007-2010 investasi peralatan dan mesin-mesin sudah bisa dilakukan dan akhir tahun 2010 sudah bisa berproduksi.
Khusus bahan baku perusahaannya dipasok oleh PT Krakatau Steel melalui 5 distributor dan pipa dari perusahaan Bakrie. Sejauh ini pasokan lancar sehingga produksi tidak terganggu.

Namun penguatan dolar terhadap rupiah akhir-akhir ini menyebabkan kekhawatiran karena dampaknya sangat buruk bagi usahanya. Sementara untuk jumlah karyawan terus meningkat dari tahun 1997 yang hanya Nur Dahyar dengan anggota keluarga saja. Tahun 1998 berjumlah 7 orang sekarang sudah berkembang menjadi 122 orang. Kebanyakan atau sekitar 78 orang merupakan lulusan smu, 3 dari akedemi, 6 orang univeritas dan sisanya pendidikan SD dan SMP.

Jepang ingin masuk
Setelah melihat prospek bisnis yang baik maka ancaman terbesar yang dihadapi perusahaan adalah rencana perusahaan Jepang melakukan investasi di sektor ini. Hal inilah yang dikhawatirkan karena bisa mengancam eksistensi NRD. Namun kebijakan Toyota yang tetap ingin mempertahankan partner lokal menyebabkan mereka belum bisa masuk.
Tetapi indikasi perusahaan Jepang ingin masuk ke sektor ini sudah ada. “Kami meminta pemerintah memperhatikan ini sebab secara modal dan teknologi mereka pasti tidak kalah,” kata Dahyar.

Sebelumnya tahun 2004 NRD juga terancam setelah produk-produk bajakan dengan harga murah dari Cina diselundupkan melalui berbagai pelabuhan. “Modusnya mereka bekerja sama dengan beberapa orang aparat bea cukai untuk meloloskannya,” ujarnya

Kisah Sukses Mantan Petugas Keamanan

Fauzi Saleh, contoh seorang pengusaha sukses sekaligus dermawan. Ini berkat kompak dengan karyawannya. Derai tawa dan langgam bicaranya khas betawi. Itulah gaya H. Fauzi Saleh dalam meladeni tamunya.

Pengusaha perumahan mewah Pesona Depok dan Pesona Khayangan yang hanya lulusan SMP tersebut memang lahir dan dibesarkan di kawasan Tanah Abang, Jakarta. Setamat dari SMP pada tahun 1966, beliau telah merasakan kerasnya kehidupan di ibukota.

Saat itu Fauzi terpaksa bekerja sebagai pencuci mobil di sebuah bengkel dengan gaji Rp 700 per minggu. Bahkan delapan tahun silam, dia masih dikenal sebagai penjaga gudang di sebuah perusahaan. Tapi, kehidupan ibarat roda yang berputar.

Sekarang posisi ayah 6 anak yang berusia 45 tahun ini sedang berada diatas. Pada hari ulang tahunnya itu, pria bertubuh kecil ini memberikan 50 unit mobil kepada 50 dari sekitar 100 karyawan tetapnya. Selain itu para karyawan tetap dan sekitar 2.000 buruh mendapat bonus sebulan gaji. Total Dalam setahun, karyawan dan buruhnya mendapat 22 kali gaji sebagai tambahan, 3 bulan gaji saat Idul Fitri, 2 bulan gaji saat bulan Ramadhan dan Hari Raya Haji, dan 1 bulan gaji saat 17 Agustus, tahun baru dan hari ulang tahun Fauzi. Selain itu, setiap karyawan dan buruh mendapat Rp 5.000 saat selesai shalat Jumat dari masjid miliknya di kompleks perumahan Pesona Depok.

Sikap dermawan ini tampaknya tak lepas dari pandangan Fauzi, yang menilai orang-orang yang bekerja padanya sebagai kekasih. “Karena mereka bekerjalah saya mendapat rezeki.”, katanya. Manajemen kasih sayang yang diterapkan Fauzi ternyata ampuh untuk memajukan perusahaan. Seluruh karyawan bekerja bahu-membahu. “Mereka seperti bekerja di perusahaan sendiri.” Katanya.

Prinsip manajemen “Bismillah” itu telah dilakukan ketika mulai berusaha pada tahun 1989 silam, yaitu setelah dia berhenti bekerja sebagai petugas keamanan. Berbekal uang simpanan dari hasil ngobyek sebagai tukang taman,sebesar 30 juta, beliau kemudian membeli tanah 6 x 15 meter sekaligus membangun rumah di jalan jatipadang, jakarta selatan.

Untuk menyiapkan rumah itu secara utuh diperlukan tambahan dana sebesar 10 juta. Meski demikian, Fauzi tidak berputus asa. Setiap malam jumat, Fauzi dan pekerjanya sebanyak 12 orang, selalu melakukan wirid Yasiin, zikir dan memanjatkan doa agar usaha yang sedang mereka rintis bisa berhasil. Mungkin karena usaha itu dimulai dengan sikap pasrah, rumah itupun siap juga. Nasib baik memihak Fauzi. Rumah yang beliau bangun itu laku Rp 51 juta. Uang hasil penjualan itu selanjutnya digunakan untuk membeli tanah,
membangun rumah, dan menjual kembali. Begitu seterusnya, hingga pada 1992 usaha Fauzi membesar.

Tahun itu, lewat PT. Pedoman Tata Bangun yang beliau dirikan, Fauzi mulai membangun 470 unit rumah mewah Pesona Depok 1 dan dilanjutkan dengan 360 unit rumah pesona Depok 2. Selanjutnya dibangun pula Pesona Khayangan yang juga di Depok. Kini telah dibangun Pesona Khayangan 1 sebanyak 500 unit rumah dan pesona khayangan 2 sebanyak 1100 unit rumah. Sedangkan pesona khayangan 3 dan 4 masih dalam tahap pematangan tanah.

Harga rumah group pesona milik Fauzi tersebut antara 200 juta hingga 600 juta per unit. Yang menarik tradisi pengajian setiap malam jumat yang dilakukannya sejak awal, tidak ditinggalkan. Sekali dalam sebulan, dia menggelar pengajian akbar yang disebut dengan pesona dzikir yang dihadiri seluruh buruh, keluarga dan kerabat di komplek pesona khayangan pertengahan september lalu, ada sekitar 4.000 orang yang hadir.

Setiap orang yang hadir mendapatkan sarung dan 3 stel gamis untuk shalat. Setelah itu, ketika
beranjak pulang, setiap orang tanpa kecuali, diberi nasi kotak dan uang Rp 10.000. tidak mengherankan, suasana berlangsung sangat akrab. Mereka saling bersalaman dan berpelukan. Tidak ada perbedaan antara bawahan dan atasan. Menurut Fauzi, beliau sendiri tidak pernah membayangkan akan menjadi seperti ini.
“Ini semua dari Alloh. Saya tidak ada apa2nya.” Kata pria yang sehari-hari berpenampilan sederhana ini.

Karena menyadari bahwa semua harta itu pemberian Alloh, Fauzi tidak lupa mengembalikannya dalam bentuk infak dan shadaqoh kepada yang membutuhkan. Tercatat, beberapa masjid telah dia bangun dan sejumlah kaum dhuafa dan janda telah disantuninya. Usaha yang dijalankannya tersebut, menurut Fauzi ibarat menanam padi. “Dengan bertanam padi, rumput dan ilalang akan tumbuh. Ini berbeda kalau kita bertanam rumput, padi tidak akan tumbuh”. Kata Fauzi.

Artinya, Fauzi tidak menginginkan hasil usaha untuk dirinya sendiri. “Saya hanya mengambil, sekedarnya, selebihnya digunakan untuk kesejahteraan karyawan dan sosial.” Katanya.
Sekitar 60 % keuntungan digunakan untuk kegiatan sosial, sedangkan selebihnya dipakai sebagai modal usaha. Sejak empat tahun lalu, ada Rp 70 milyar yang digunakan untuk kegiatan sosial.

“Jadi, keuntungan perusahaan ini adalah nol.” Kata Fauzi. ” Jika setiap bangun pagi , kita bisa mensyukuri dengan tulus apa yang telah kita miliki hari ini, niscaya sepanjang hari kita bisa menikmati hidup ini dengan bahagia”

Kisah Elang Gumilang - Bisnis Properti yang Sukses

Merenung mengenai rumah yang dapat dijangkau oleh kalangan bawah dan itulah yang dipikir elang di sepanjang perjalanan dari kampusnya, Institut Pertanian Bogor (IPB), menuju proyek rumah sederhana sehat (RSH) di Ciampea, Kabupaten Bogor.

Elang adalah anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan H Enceh dan Hj Priyanti. Tubuh kecil lelaki kelahiran Bogor, 6 April 1985 itu terlihat energik mengamati struktur bangunan rumah-rumah mungilnya. Bukan hanya gerak tubuhnya yang lincah, cara bercakap Elang pun sangat cepat. Di tengah hujan lebat, Elang mengisahkan berbagai perjalanan jatuh bangun kehidupannya merintis usaha properti kecil-kecilan ini."Ini usaha kecil-kecilan karena sebetulnya saya memiliki impian besar, bagaimana orang-orang muda seperti saya ini bangkit bersama membangun negeri ini," ujar Elang.
 
Semangat entrepeneurship atau kewirausahaan seakan tercermin dari perjalanan hidup Elang. Bagaikan burung yang selalu ingin terbang mengepakkan sayapnya setinggi mungkin, Elang tak pernah melupakan untuk melihat Bumi.Bagi Elang, seluruh perjalanan hidupnya yang dibilang sukses meniti karier saat masa studinya yang hampir rampung di Fakultas Ekonomi Manajemen IPB hanyalah kebetulan belaka.
 
Semangat kewirausahaan itu ternyata sudah dimulai sejak masa sekolah menengah umum (SMU). Tahun 2000, sambil menikmati masa-masa indah sekolahnya, Elang sudah berpikir untuk bisa memiliki uang dari hasil jerih payahnya sendiri.Diam-diam Elang berkeliling menjadi penjaja kue donat dan roti. Lumayan juga, setiap hari dia bisa mengantongi setidaknya Rp. 50.000.Setiap hari 10 boks donat, masing-masing berisi 12 buah, dan beberapa roti dibawa ke sekolah untuk ditawarkan ke teman-temannya.
 
Namun, kegiatan iseng-iseng itu tanpa disangka akhirnya ketahuan orangtuanya. Kemarahan orangtuanya tidak membuat Elang berkecil hati. Semangat kewirausahaan itu seakan mendesak untuk terus direalisasikan.Secara kebetulan, begitulah Elang berulang kali menyebut perjalanan hidupnya, prestasinya yang gemilang membuat kemenangan-kemenangan diraih.Kemenangan yang diraih Elang, antara lain, juara pidato bahasa Sunda se-Kota Bogor tahun 2000, juara harapan pertama Lomba Cepat Tepat Sri Baduga se-Jawa Barat, dan kemenangan yang tak pernah dilupakannya adalah juara Java Economics FEM IPB se-Jawa 2003.
 
Lumayan juga semua kemenangan ini karena setiap kemenangan selalu bernilai rupiah yang cukup membuatnya semangat. Elang pun menjadikan uang itu sebagai modal untuk kuliah.Bahkan, sebagian uang itu digunakan Elang untuk modal berjualan sepatu. Namun, usaha ini hampir membuatnya habis-habisan karena dia hampir saja tertipu jutaan rupiah.Semakin dewasa bertumbuh, Elang semakin mengubah arah tujuannya. Di masa-masa kuliah, Elang bukan hanya berpikir bagaimana bisa menghidupi dirinya sendiri, tetapi mulai mengajak rekan-rekan sekampusnya untuk sama-sama merebut kesuksesan.Sekali lagi, menurut Elang, semua ini serba kebetulan.
 
Alhasil, gagasan-gagasan kewirausahaannya pun mudah diterima rekan-rekan sekampusnya. Selain bisnis properti kecil-kecilan, mulailah dia merintis usaha kursus bahasa Inggris di lingkungan sekitar kampus IPB.Elang pun tanpa sungkan mengisahkan dirinya pernah menjadi pemasok lampu di kampusnya. Modalnya cuma daftar harga yang diperoleh dari salah satu pabrik lampu terkenal.Kerja dengan otot mungkin lebih banyak digunakan daripada dengan otak. Begitulah Elang ketika mengisahkan masa-masa kuliahnya yang sebagian digunakan untuk berjualan minyak goreng. Puluhan jeriken dicuci bersih, diisi minyak goreng curah, lalu dikirim ke Pasar Anyar dan Cimanggu, Bogor.
 
"Tapi bagi saya, yang paling unik tetaplah merintis pembangunan rumah untuk rakyat miskin," tegas Elang.Awalnya diremehkanDeretan rumah mungil yang didirikannya bersama lima temannya itu sebenarnya diperuntukkan bagi keluarga-keluarga miskin, terutama warga di sekitar perkampungan itu.Subsidi dari Kementrian Negara Perumahan Rakyat membuat rumah seluas 22 meter yang berdiri di atas lahan 60 meter persegi dapat ditawarkan cuma Rp 25 juta dan Rp 37 juta per setiap unit."Murah banget, tetapi lucunya orang-orang kota juga sangat berminat terhadap rumah-rumah ini, bahkan tahap awal pembangunan 45 rumah sudah habis terjual," ujar Elang.
 
Susahnya berurusan dengan bank dirasakan pula oleh Elang. Sebagai mahasiswa biasa, perbankan tampaknya enggan memberikan bantuan modal. Padahal, prospek usahanya diyakini sangat jelas, rumah selalu saja ada permintaannya."Itulah nasib orang muda. Mereka sulit diberi kesempatan untuk merintis sesuatu yang dinilai mulia. Orang bank bilang, lebih baik kami kasih modal ke tukang gorengan daripada ke mahasiswa," kata Elang, menirukan ucapan seorang staf sebuah bank.
 
Tak ada rotan, akarpun jadi. Tanpa kenal menyerah, akhirnya Elang mengajak patungan teman-temannya. hasilnya, dengan modal Rp 340 juta, mereka merintis pembangunan rumah sehat sederhana.Sekali lagi, rumah-rumah yang dibangunnya itu mendapat dukungan subsidi dari pemerintah karena fokus perhatiannya adalah untuk si miskin berpenghasilan rendah."Kita bisa menjadi pengusaha sejati kalau bisa dipercaya oleh rekan terdekat kita. Karena itu, tanpa bantuan perbankan, usahanya mulai beralih menjadi semacam perusahaan terbuka. Modalnya, ya siapa yang mau ikutan patungan, ya silahkan saja. Keuntungannya pasti bisa dibicarakan," ujar Elang.
 
Dari penjualan rumah yang sedikit demi sedikit itu, modalnya diputar kembali untuk membebaskan lahan di sekitarnya. Rumah bercat kuning pun satu demi satu mulai berdiri. Belakangan ini Elang justru dijuluki "Juragan RSS" ala Bogor oleh penduduk setempat.
 
Menurut Elang, andaikan semua orang muda mau bergerak memikirkan kebutuhan masyarakat miskin, tentu di negeri ini akan banyak tumbuh wirausaha muda. Yang pasti, lapangan pekerjaan pun akan semakin terbuka lebar.Siapa yang akan peduli lagi?Komentar Warta Tinular
 
Elang Gumilang merupakan contoh generasi muda yang tidak pantang menyerah dan tidak mudah mengeluh. Selain menjadikan proyek rumah murah sebagai bisnisnya, dia juga secara tidak langsung ikut membantu kepemilikian rumah bagi warga kurang mampu.Bandingkan dengan kebanyakan lulusan Perguruan Tinggi Negeri, Swasta maupun para Akademia yang saat ini mengeluhkan sekaligus mengkambinghitamkan kurangnya lapangan kerja ;-)
 
Sangat banyak sekali para lulusan Perguruan Tinggi yang secara teknis hanya pandai dalam teori namun NOL BESAR dalam praktiknya, Dunia Kerja sendiripun banyak yang mengeluhkan para tenaga kerja mereka yang baru saja lulus Perguruan Tinggi kebanyakan tidak siap pakai.Sudah saatnya para generasi muda bangkit, berusaha mandiri dan tidak tergantung lapangan kerja yang ada. Bukankah para pemilik-pemilik perusahaan yang mapan itu saat ini, dulunya juga memulai dari bawah ?Bagaimana ada lapangan kerja kalau tidak ada seorangpun yang berinisiatif berwirausaha.
 
Elang Gumilang merupakan salah satu contoh Entrepreneur muda yang sukses berjalan dari bawah. Saya yakin di Indonesia ini masih banyak Elang Gumilang lainnya walaupun tidak terekspos oleh media